Monday, February 14, 2005

To love and to forgive

Denger2 hari ini hari Valentine. What the hell that’s supposed to mean? Hm, tapi ga aku pungkiri dulu bgt aku terjebak dalam penanggalan itu =p masih inget bgt jaman2 sma kita anak2 tarki suka membuat plan2 buat tgl 14 Februari ini. Dari merencanakan kunjungan ke sma terdekat (hah, smea gt ti maksud loe? ya gak lah..pl, what else) sampai memberi benefit yang luar biasa bg toko2 bunga dan kawan2nya. Trus ada lagi saat masih jomblo (bentar, kapan ya..uhm..eh, maksudku pada saat rata2 teman2 jomblo =p) akhirnya kita memutuskan buat merayakannya bersama, dengan cabut sekolah =) miss those times. Lewat masa sma, hilang pula gregetnya. Seperti hari ini, aku bahkan lupa tanggal kalau ga diingetin mesti cepet2 bayar uang wisuda. Yah, tapi boleh juga lah dipakai hari ini sebagai ajang perdamaian. Aku tahu bgt ada satu orang di luar sana yang sedang menderita karena kehilangan ‘adek’ dan sahabatnya.

Aku tahu tadi aku blg aku gak ngerayain, tapi boleh kan titip salam sayang buat semua orang yang ada di hidup aku. Dari yang sifatnya konstruktif sampai yang destruktif..love you all!Especially my dear A.D.

Sunday, February 13, 2005

Banyak senyum hari ini..=)

Senja yang indah luar biasa bukan, sayang? Kita lewati hampir enam jam dengan semua yang merdesa. Tidak ada perdebatan sekecil apapun yang numpang lewat. Hanya kita isi dengan senyum, tawa, kangen (ya, ketemu pun aku masih kangen), pelukan, kisses, backsound bajaj bajuri..eh, peluh (karna cuaca ataukah atmosfer?hmm..), bunyi sms yang tak diperdulikan, dan bunyi telpon yang kemudian disilent =)

Ah, tambah sayang sama kamu.
Pun tambah takut semakin dalam,
tapi pasti ada noktah cahaya di ujung sana..

Saturday, February 12, 2005

Get well soon, dear..

Selamat tidur, selamat melintas mimpi.
Bila nanti kita bertemu, kan kubisikkan semua indah yang ada.
Besok kita mulai lagi alur yang sama dengan rasa yang beda,
fajar, terik, senja, malam, dengan senyum..
Sungguh mati aku tak bisa lelap. Hilang sudah inginku tuk tertidur nyenyak. Aku termangu dalam kamar yang membisu, mungkin lelah ia temaniku sedari tadi. Yang bertahan hanyalah suara jarum jam yang terus menerus ingatkan waktu yang menipis. Aku tak biasa lagi tertidur dalam gelap. Entah kenapa aku lebih suka saat fikirku yang lemahkan sang sadar. Aku menikmati saat neuronku tengah mencerna dalam terangnya suasana, perlahan dan pasti bawaku ke lelah tanpa jawab. Lalu aku akan tertidur, pada perdebatan keseribu.

Friday, February 11, 2005

rasa berlamparan..

Sudah kubilang tadi, tiada yang lebih kejam. Karena maaf, siapakah manusia yang berhak tuk bedakan. Tapi aku tahu diri, yang mungkin memang tak layak. Aku sepertinya ingin pertimbangkan tawaran kerja British Petroleum. Aku takkan sanggup berdekatan denganmu tanpa merasa buyar berantakan.

Topeng

Sepertinya aku salah bicara. Baru tadi pagi aku menulis comment di blog temanku, selayaknya hidup ini tanpa topeng. Lebih baik menyesal melakukan daripada tidak sama sekali. Lalu apa yang tengah kulakukan hari ini?

Pernahkah terasa hatimu menciut? Perlahan-lahan termakan perasaan sendiri, lalu mati kemudian. Terdengar lucu, tapi bila hal ini disahihkan oleh para ahli, mungkin akulah kelinci percobaan pertama untuk itu. Mungkin doaku semalam keliru, aku minta utk tidak menaruh benci kepada siapapun. Tapi mungkin aku lupa ucapkan kata ikhlas, karena hari ini aku tersenyum tapi tidak mata dan hatiku. Seperti memakai topeng..

Yang terhebat adalah senja tadi, saat aku tidak bisa memperlihatkan rasa kecewa. Malahan pengertian yang begitu besar yang kutunjukkan. Aku seperti beku di dalam, dan sebenarnya ketakutan. Apa jadinya bila nanti mataku tak lagi bisa berbicara? Bagaimana bila aku sudah biasa tak berair muka?

Nyaris Sempurna

Katanya ia semua kecuali satu..

Sempurna dalam fikir,
sempurna dalam sabar,
sempurna dalam wadah,
sempurna dalam pahatan,
sempurna dalam laku,
sempurna dalam akhlak,
sempurna dalam wicara,
tapi tidak dalam religi..

Religi yang kita bicarakan, bukan iman..
Tepat atau tidak, hanya Dia yang tahu..

Thursday, February 10, 2005

Rainy night

Aku baru saja pulang dan hujan lebat menyambutku. Entah kenapa sekali ini aku merelakan diri melakukan sesuatu yang tidak perlu, pun sudah lama tak kulakukan. Aku menghabiskan kurang lebih lima belas menit di bawah siraman hujan. Hanya berdiri dan memejamkan mata. Berharap tetesannya yang bombastis menghapus segala ruwet di otakku ini.

Mungkin semua hanya pikiran, yang perlahan menguasai rasaku. Mungkin semua memang harus berjalan seperti ini. Mungkin adalah satu dan lain hal yang telah termaktub. Mungkin yang terbaik adalah seperti ini. Mungkin aku diajari untuk lebih mawas diri. Mungkin aku diarahkan untuk introspeksi. Mungkin dan mungkin dan mungkin lagi..terus menerus hingga aku tak mampu berpikir lagi.

Mungkin memang ada alasan mengapa aku harus kecewa sedalam ini..

[tiarandry]

Dari jauh kulihat suatu yang berkelip. Awalnya samar, sampai kulangkahkan kaki dekatinya. Pada akhirnya aku tiba disana. Pada suatu titik yang ternyata adalah awal. Happy one month anniversary, my dear. Semoga banyak angan dan ingin yang kan kita buat dan kita gapai bersama. Sayang kamu..

Wednesday, February 09, 2005

Ngantuknya jadi ilang..=)

Happy birthday to my beloving uncle. Malam ini cukup luar biasa, aku menghabiskannya bersama sodara2 dan hujan renikku tersayang. Kami merayakan ulang tahun pamanku di Cassandra Cafe. Letaknya di Sunter, dan sudah kebayang dong atmosfernya? Yup, sangat beda dengan BC, Bats ataupun Cj's. Sungguh begitu banyak manusia dari berbagai kalangan tumpah ruah di sana. Kami benar2 terpana, atau tepatnya tercengang dengan suasana yang ada. Sampai akhirnya band sodaraku, TriNaFa mendobrak irama dan menyajikan musik2 lokal berirama jazz. Tadinya aku pikir banyak pengunjung yang akan melangkahkan kakinya begitu mendengar lagu2 yang dimainkan TriNaFa, but well memang tdk boleh berpraduga. Ternyata mereka bahkan menyukai lagu dari band easy listening, yaitu Maroon 5. Thanks ya hun, udah nemenin aku di tengah hingar bingarnya musik, asap rokok, bau bir hitam, orang dan 'orang'. You're so kind..sayang kamu, pohon..=)

Monday, February 07, 2005

Do people really change? Let's see..

Ingin rasanya menutup mata, tak melihat bahwa lidah memang tak bertulang pada hampir semua mahkluk bertulang belakang, berkaki dan bertangan dua, dengan rasio dan nurani, yang dinamakan manusia. But what can I say? Belum genap seminggu, ternyata aku harus menerima kenyataan tersebut terjadi pada orang-orang di sekitarku.

Aku punya seorang sahabat, yang dulu kerap berbagi kisah-kisah bodoh dlm percintaan. Aku mengenalnya sejak smp, dan tentu yang sering dibicarakan adalah cinta, apapun bentuknya..puppies love, first love, finding true love, etc..
Sampai akhirnya dia pindah ke Singapore dan Jepang, kami masih tetap bersahabat, lalu tiba-tiba..wham, something’s change or he change (exactly). Dia memutuskan utk tdk bertemu dgnku lagi karena dia punya pacar. So what’s the different? Ternyata si pacar gak suka dia punya sahabat cewe, dan begitulah akhirnya. Pdhl kita sdh spt sodara, dan keluarganya sdh sgt dekat denganku. Lalu kemana kah janji2 persahabatan yang dulu?

Itu baru satu masalah. Kemarin aspri-ku di rmh diberhentikan dgn sangat hormat. Karena suatu kesalahan yang dilakukannya, dan ini sudah kelima kalinya! Lalu untuk apa dulu dia sampai janji2 tdk akan begitu lagi?

Lalu kemarin juga (what a bad day, huh?) aku mendapati seseorang berjanji padaku dan mengingkarinya sendiri, seseorang yang dekat denganku sejak sma. Jangan khawatir, kali ini aku tidak bilang dia berubah. Memang sudah dari dulu dia seperti itu, jadi paling tidak dia satu2nya yang tidak berubah. Walaupun itu terhitung negatif.

Jadi kesimpulannya, some people change, some people don’t. And they all do the same mistake. I really hate when they don’t keep their promise. But this is the world, maybe and I mean maybe they lie to me cause they want to make other people’s happy..

Sunday, February 06, 2005

First thought in the morning

Semua orang pasti punya keinginan yang berbuntut idealisme. Ingin kerja yang sesuai latar belakang pendidikan, ingin punya rumah terpisah dari mertua, ingin ini..ingin itu. Tak perlu dibahaslah apakah keinginan menjadi idealisme, ataukah ingin2 itukah merupakan jalan dari idealisme. Bahkan bila aku bilang aku hari ini naik gunung juga sah2 saja menganggap itu idealisme, toh gak ganggu siapa2 kan?

Nah, salah satu inginku yang kujadikan idealisme adalah mengenai pernikahan. Yup, aku ingin sekali [baca : dying] menikah karena cinta. Karena bila hampir semua orang bilang kalau 20-30 tahun stlh menikah, rasa akan jadi hambar..begitu2 saja, dan pasangan lama kelamaan akan menjadi sahabat. Maka aku lebih baik menikah dalam keadaaan cinta, drpd tdk sama sekali. Walaupun toh akhirnya akan sama.

Logikanya begini :
1. Menikah karna cinta diposisikan A, stlh 20-30 thn dan keadaan berubah diposisikan C.
2. Menikah bukan karna cinta diposisikan B, stlh 20-30 thn dan keadaan berubah diposisikan C.

Nah, bukannya lebih baik pilihan pertama pilihan kedua? Yah, namanya juga idealisme..tp apa yang terjadi bila 75% idealisme tidak dapat diterapkan? [damn..!!] apakah kita harus fleksibel? Dgn kata lain mencari spare part yang lebih terjangkau dan mungkin mutunya tidak sebagus awal? Lagi dan lagi itu semua hanya pilihan..mungkin lebih baik aku diam di tempat dan tidak mencari spare part lain..